MONPERA.ID, Palembang – Guna menghadapi terjadinya potensi El Nino di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengambil langkah cepat dengan memimpin langsung Rapat Koordinasi Kebakaran Hutan, Kebun dan Lahan (Karhutbunlah) yang berlangsung di Ruang Auditorium Graha Bina Praja, Jum’at (24/4/2026).
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, bahwa pentingnya kesiapsiagaan peran relawan sejak.dini melalui penguatan peran relawan di seluruh daerah.
“Saya minta seluruh kepala daerah segera mengaktifkan kembali relawan karhutla. Ini langkah strategis untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanggulangan di wilayah masing-masing,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kesamaan persepsi serta pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat.
“Rakor ini menjadi forum untuk menyatukan langkah dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Informasi dari BMKG harus menjadi pijakan utama dalam menghadapi potensi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengingatkan bahwa tahun 2026 memiliki potensi kerawanan Karhutbunlah yang cukup tinggi.
BMKG memprediksi awal musim kemarau akan berlangsung bertahap mulai Mei hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah, termasuk Musi Banyuasin, mulai memasuki periode kering pada rentang waktu tersebut.
Secara global, kondisi iklim saat ini berada pada fase netral pasca berakhirnya La Nina pada Februari 2026. Namun demikian, terdapat peluang munculnya fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026 dengan probabilitas sekitar 50–60 persen.
“Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari normal. Sekitar 86 persen zona musim berada pada kategori curah hujan di bawah normal, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026,” jelas BMKG.
BMKG juga mencatat sekitar 36 persen wilayah berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara signifikan.
Dalam peta kerawanan, Kabupaten Musi Banyuasin termasuk dalam kategori wilayah rawan Karhutbunlah bersama sejumlah daerah lain seperti Banyuasin, OKI, dan Ogan Ilir. Selain itu, terdapat sedikitnya 114 desa di tujuh kabupaten di Sumatera Selatan yang masuk kategori rawan, sehingga membutuhkan langkah mitigasi yang lebih terstruktur, sistematis, dan responsif.
“Data ini harus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, termasuk penguatan deteksi dini, patroli terpadu, serta pelibatan aktif masyarakat hingga tingkat desa sebagai bagian dari sistem pengendalian yang terintegrasi,” tegas BMKG.

