Oleh: Muhamad Afdoli Ramadoni, S.Sos., M.Sos., CPS (Pengamat Pendidikan Sumatera Selatan & Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang)
MONPERA.ID, Palembang – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Secara historis, momentum ini adalah penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan Nasional. Namun, di tengah hiruk-pikuk era digital, muncul sebuah pertanyaan reflektif, Apakah peringatan ini telah menjadi ruang dialog kritis, atau sekadar terjebak dalam jebakan “rutinitas seremonial” tahunan?
Saat ini, wajah pendidikan kita tidak lagi hanya ditentukan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital. Media massa dan media sosial telah menjadi arena utama pembentukan wacana publik. Sayangnya, narasi pendidikan yang muncul kerap kali bersifat formalistik pemujaan terhadap angka administratif dan slogan motivasional tanpa menyentuh akar permasalahan struktural yang nyata.
Media sebagai Ruang Publik Pendidikan
Dalam kacamata sosiologis, Jurgen Habermas memperkenalkan konsep Public Sphere (Ruang Publik). Media seharusnya menjadi sarana bagi warga untuk berdialog secara rasional mengenai kepentingan bersama, termasuk mutu dan akses pendidikan.
Peringatan Hardiknas sejatinya adalah peristiwa komunikasi publik yang sarat nilai. Namun, tantangan besar muncul ketika “pesan” pendidikan tersebut terdistorsi. Meminjam tesis Marshall McLuhan, “the medium is the message”, penggunaan media digital yang cenderung instan berpotensi menyederhanakan makna pendidikan yang kompleks menjadi sekadar konten visual yang viral namun dangkal.
Tanpa kedalaman narasi, publik justru menjauh dari refleksi substansial tentang esensi memanusiakan manusia.
Potret Realita dan Paradoks Literasi
Kita tidak bisa menutup mata bahwa pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan multidimensional. Ketimpangan akses antarwilayah, rendahnya literasi membaca, hingga beban administratif guru yang menyesakkan adalah realitas yang sering kali tertutup oleh unggahan simbolik “Selamat Hari Pendidikan” di media sosial.
Di sinilah pentingnya Literasi Media. Literasi media bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi pesan secara etis. Rendahnya literasi ini mengakibatkan publik mudah terjebak dalam disinformasi atau narasi optimisme semu yang tidak berpijak pada data.
Pendidikan harus menggeser paradigma: dari sekadar penguasaan konten menuju penguatan literasi kritis. Hardiknas harus menjadi ajang bagi media untuk menyuarakan isu-isu krusial seperti etika digital, tantangan kecerdasan buatan (*AI*), hingga relevansi kurikulum dengan masa depan global.
Peran Strategis Perguruan Tinggi
Sebagai akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), saya memandang pendidikan sebagai sarana dakwah bil-ilmi (dakwah melalui ilmu pengetahuan). Dosen dan universitas tidak boleh menjadi “menara gading” yang hanya sibuk dengan urusan internal.
Akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk hadir sebagai intelektual publik (public intellectual). Melalui opini di media, riset terapan, hingga konten edukatif yang mencerahkan, perguruan tinggi harus mampu mengisi ruang digital dengan narasi yang solutif. Kita harus berani menyuarakan kritik konstruktif agar pendidikan tidak tereduksi menjadi sekadar komoditas atau indikator administratif belaka.
Menuju Jalan Peradaban
Agar Hardiknas tidak sekadar menjadi agenda tahunan yang lewat begitu saja, ada empat langkah strategis yang perlu kita ambil:
1. Dialog Inklusif: Menjadikan media sebagai ruang diskusi jujur antara pemerintah, akademisi, guru, hingga pelajar mengenai arah pendidikan.
2. Integrasi Literasi Digital: Menjadikan literasi media sebagai kompetensi inti dalam ekosistem belajar, bukan sekadar muatan tambahan.
3. Produksi Wacana Keilmuan: Mendorong keterlibatan aktif dosen dalam komunikasi publik guna mengimbangi konten-konten dangkal di ruang digital.
4. Reposisi Pendidikan: Mengembalikan pendidikan sebagai proyek peradaban yang membentuk karakter dan daya kritis, bukan sekadar mencetak “tukang” di pasar kerja.
Penutup
Pendidikan Indonesia tidak akan bergerak maju hanya dengan slogan dan upacara. Ia membutuhkan kejujuran dalam berkomunikasi dan keberanian dalam berefleksi. Hardiknas adalah momentum untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar memerdekakan, mencerdaskan, dan berkeadilan. Mari kita jadikan komunikasi media sebagai alat pencerahan, agar pendidikan tetap menjadi jalan peradaban bagi bangsa ini.

