Perjuangan Avi Sopian Berjalan Kaki dari Purwakarta ke Tanah Suci Makkah

MONPERA.ID, Palembang – Bagi Avi Sopian, setiap melangkah adalah doa dan harapan, sekaligus pertaruhan besar atas mimpi yang belum selesai. Di usia 36 tahun, pemuda asal Desa Sinargalih, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat itu memilih jalan yang nyaris tak terpikirkan banyak orang. Ia berjalan kaki menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah.

Saat mentari siang menyengat Kota Palembang, Selasa (29/9/2026), Avi baru saja menunaikan salat Zuhur di Masjid Dr. Irzanita Kampus Universitas Kader Bangsa (UKB). Wajahnya tampak lelah, kulitnya menggelap akibat berhari-hari diterpa panas, debu dan asap knalpot kendaraan yang melintas. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak mudah dipadamkan karena suatu tekad.

Di pundaknya tergantung sebuah ransel sederhana dengan bendera Indonesia dan Arab Saudi. Di depannya tertulis Indonesia-Makkah.  Ini tentu tak ada kemewahan, tak ada rombongan pendamping, tak ada kendaraan yang mengantarnya. Hanya dua kaki yang terus melangkah dan keyakinan yang terus dijaga.

“Bismillah, ini kedua kalinya saya mencoba berjalan kaki ke Tanah Suci. Doakan semoga berhasil,” ujar Avi di Palembang.

Kalimat itu menyimpan cerita panjang tentang kegagalan, keteguhan, dan harapan yang menolak padam.

Beberapa bulan lalu, impian Avi hampir terkubur. Saat itu ia juga berusaha mencapai Tanah Suci dengan berjalan kaki. Perjalanan membawanya hingga ke Vietnam. Namun nasib berkata lain. Bekal logistik yang dimilikinya habis di negeri orang. Tanpa dukungan yang cukup, ia terpaksa menghentikan langkah dan kembali pulang ke Indonesia.

Bagi banyak orang, kegagalan sejauh itu mungkin menjadi alasan untuk menyerah.

Namun tidak bagi Avi.Kepulangan dari Vietnam justru menjelma menjadi titik awal lahirnya tekad baru. Mimpi yang sempat terhenti itu kembali dipungut, dirapikan, lalu diperjuangkan sekali lagi.

Pada 1 Agustus 2026, ia memulai perjalanan keduanya dari Desa Sinargalih. Dengan doa keluarga dan keyakinan yang tak berubah, Avi kembali menapaki jalan panjang yang membentang ribuan kilometer menuju Kota Makkah.

“Ini hari ke-47 saya berjalan kaki seorang diri ke Tanah Suci. Dan baru sampai di Palembang,” katanya.

Empat puluh tujuh hari berjalan sendiri bukan perkara mudah. Ada panas yang membakar kulit, debu jalanan dan asap knalpot kendaraan. Namun menjelang senja, Avi beristirahat dan baru melanjutkan kembali keesok pagi.

“Saya singgah ke masjid-masjid untuk sholat. Kadang juga mampir ke kantor polisi. Namun tempat beristirahat biasanya di masjid layaknya musafir,” ucapnya.

Namun di tengah semua itu, Avi selalu memiliki alasan untuk terus bangkit setiap pagi.

“Saya ingin umrah ke tanah suci,” ucapnya singkat.

Jawaban sederhana itu menjadi fondasi dari perjalanan luar biasa yang sedang dijalaninya. Tidak ada ambisi popularitas. Tidak ada target menjadi terkenal. Yang ada hanyalah keinginan kuat untuk memenuhi panggilan hati menuju rumah Allah.

Ditanya kapan perkiraan akan sampai ke tanah Suci ? Avi belum dapat memastikan berapa lama perjalanannya. Semua diserahkannya sesuai kemampuannya dan ia terus berdoa agar keinginannya sampai ke tanah suci dapat terlaksana.

Perjuangan itu juga memiliki harga yang tidak murah. Di dalam perjalanan, Avi juga menyempatkan membuat konten di Instagram ataupun Tiktok. Dia berbagai cerita dan pengalaman bersama follower dan netizen.

Di kampung halaman, seorang anak menunggu kepulangan Avi. Sementara kedua orang tuanya telah lebih dahulu meninggal dunia. Meski demikian, Avi mengaku telah mendapatkan restu dari keluarga untuk menjalankan perjalanan panjang tersebut.

“Orang tua saya sudah meninggal. Saya jalan kaki ke Tanah Suci ini sudah dapat restu keluarga dan lainnya. Saya ini duda meninggalkan satu orang anak ,” ujarnya.

Restu itu menjadi bekal yang tak kalah penting dibanding makanan atau uang di perjalanan. Ketika tubuh mulai lemah, ketika jarak terasa semakin jauh, dukungan keluarga menjadi penguat yang terus mengiringi langkahnya.

Di berbagai daerah yang dilaluinya, kisah Avi kerap mengundang perhatian masyarakat. Banyak warga yang terkejut mendengar tujuan perjalanannya. Sebagian menghampiri untuk sekadar berbincang, sebagian lain memberikan bantuan dan doa.

Di tengah dunia yang serba cepat, ketika orang berlomba mencapai tujuan dengan kendaraan tercepat, Avi justru memilih menaklukkan jarak dengan kesabaran. Ia melawan ribuan kilometer jalan raya dengan sepasang kaki dan keyakinan yang tak pernah berhenti menyala.

Perjalanan menuju Tanah Suci itu masih panjang. Entah berapa banyak tantangan yang menanti di depan. Namun satu hal yang pasti, kegagalan di Vietnam tidak berhasil mematahkan mimpinya.

Kini, dari Palembang, langkah-langkah kecil itu kembali bergerak. Menyusuri jalan yang belum diketahui ujungnya, menembus batas negeri demi negeri, seraya membawa satu harapan yang terus ia genggam erat.

Bahwa suatu hari nanti, setelah ribuan kilometer perjalanan dan tak terhitung jumlah langkah yang ditinggalkan di belakang, kaki seorang pemuda dari pelosok Purwakarta itu akan benar-benar menapak di Tanah Suci. Dan saat hari itu tiba, seluruh lelahnya akan berubah menjadi kisah tentang keyakinan yang berhasil menemukan tujuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *