MONPERA.ID,Palembang – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumsel memperkuat sinergi untuk mengakselerasi transformasi ekonomi daerah dari ketergantungan bahan mentah menuju industri bernilai tambah.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pembukaan The 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026 bertajuk “Advancing Value-Added Development through Synergy to Strengthen Sumatra’s Food and Energy Security” di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (3/11/2026).
Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, menyampaikan bahwa forum tahunan ini menjadi langkah strategis Task Force Percepatan Investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang resilien dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik global dan tantangan iklim.
“Kinerja ekonomi Sumsel pada triwulan II 2026 tumbuh kuat sebesar 5,20% (yoy), melampaui rata-rata regional Sumatera yang tercatat 5,06% (yoy). Namun, struktur ekonomi kita masih bertumpu pada komoditas mentah batu bara dan kelapa sawit. Untuk mencapai target RPJMD sebesar 8% pada 2030 serta mendukung Visi Indonesia Emas 2045, kita wajib menghadirkan mesin pertumbuhan baru melalui hilirisasi,” tegas Herman Deru.
Ia menjelaskan, Pemprov Sumsel telah menyiapkan karpet merah bagi para investor melalui kepastian hukum dan regulasi penanaman modal, penyederhanaan perizinan berbasis risiko (OSS), hingga penyusunan dokumen Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Beberapa komoditas unggulan yang siap diakselerasi nilai tambahnya meliputi Kopi Robusta & Kelapa, Perikanan & Peternakan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa profil investasi di Sumsel menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga triwulan III 2026, realisasi investasi Sumsel telah menembus Rp46,54 triliun atau 104,20% dari target RPJMD 2026 (Rp44,63 triliun). Realisasi tersebut didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp32,78 triliun (70,4%) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp13,76 triliun (29,6%).
“Forum ini menjadi momentum strategis untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan investor dalam membangun kemitraan jangka panjang. Dalam SEF 2026 ini, kami menawari investor 4 proyek hilirisasi strategis bernilai total USD 76 juta di sektor kelapa, patin, sapi potong, dan udang vaname. Seluruh proyek menawarkan internal rate of return (IRR) menjanjikan antara 17,7% hingga 42% dengan masa pengembalian modal 3 hingga 8 tahun,” jelas Bambang.
Selain sektor industri dan manufaktur, Bank Indonesia dan Pemprov Sumsel juga memperkenalkan inovasi Sumsel Health Tourism berbasis di RSUD Siti Fatimah. Program ini mengintegrasikan layanan medis unggulan seperti Medical Check-Up (MCU) dengan paket pariwisata daerah bekerja sama dengan ASITA Sumsel.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia turut mendiseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Sumsel dengan sejumlah poin kunci antara lain Inflasi tahunan Sumsel pada Oktober 2026 terjaga stabil di angka 2,87% (yoy).
Penyaluran kredit pada triwulan III 2026 tumbuh pesat 13,11% (yoy) yang didominasi kredit modal kerja dan investasi, diimbangi rasio Non-Performing Loan (NPL) yang terjaga aman di bawah 5%. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif sebesar 4,28% (yoy).
” Transaksi non-tunai digital menguat signifikan dengan akumulasi nominal QRIS mencapai Rp2,37 triliun (tumbuh 15,11% yoy). Seluruh (18) Pemerintah Daerah di Sumsel pun telah 100% masuk dalam kategori Pemda Digital, ” Jelasnya.
Melalui penyelenggaraan The 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026, Pemprov Sumsel dan Bank Indonesia optimistis mampu menarik lebih banyak investasi inklusif yang menyerap tenaga kerja, mengurangi pengangguran, serta memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

