Pelajaran Kesetiaan dari Mendagri, Tito Karnavian Ziarah ke Makam Haji Halim

MONPERA.ID, Palembang – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti kompleks pemakaman keluarga di Jalan M Isa, Nomor 1, Palembang, pada Senin (16/2/2026) siang.

Di bawah langit kota yang teduh, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri) Prof. Jenderal Polisi (Purn) Tito Karnavian, hadir untuk menuntaskan sebuah janji batin yang sempat tertunda oleh tugas negara.

Kedatangannya kali ini bukan sekadar kunjungan seorang pejabat tinggi negara, melainkan ziarah seorang anak kepada sosok yang telah dianggapnya sebagai orang tua sendiri, tepat 26 hari setelah berpulangnya sang dermawan Sumatera Selatan (Sumsel), Kms H Abdul Halim Ali Bin Kms Ali.

Mantan Kapolri ini hadir di pemakaman bersama istri dan putranya, seolah ingin menunjukkan kedekatannya dengan Haji Halim dan Keluarga. Kedatangan Tito disambut langsung dengan pelukan hangat namun sarat duka oleh putra almarhum, Kms H M Umar Halim.

Pertemuan kedua sahabat lama ini menjadi potret nyata betapa dalamnya ikatan emosional yang telah terjalin selama puluhan tahun, melampaui sekat-sekat jabatan dan protokol kenegaraan.

H Umar Halim menceritakan bahwa sosok Tito Karnavian bukanlah orang asing bagi keluarga besar mereka. Hubungan persaudaraan ini terjalin jauh sebelum Tito meraih bintang dan diamanahi sebagai menteri.

Menurut Umar, Tito sudah mengenal orang tuanya sejak masih muda dan mereka berdua telah menjalin persahabatan erat sejak duduk di bangku SMA.

“Terimakasih kepada Mendagri Tito Karnavian yang sudah menyempatkan ziarah dan mendoakan ayahanda Haji Halim, meski disibukkan dengan tanggung jawab besar sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih, Tito tetap mengupayakan waktu untuk hadir langsung di pemakaman,” kata Umar, dengan nada penuh haru.

Menurutnya, kehadiran Mendagri Tito, sangat menyentuh hati keluarga, karena ia baru saja mendarat setelah menunaikan tugas negara yang amat melelahkan. Ia diketahui baru saja kembali dari lapangan untuk mengecek langsung proses pemulihan pasca bencana yang melanda wilayah Sumatera.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, ziarah ini menjadi pengingat, setinggi apa pun jabatan seseorang, rasa hormat kepada orang tua dan kesetiaan pada sahabat adalah nilai yang tak akan pernah lekang oleh waktu,” kata Umar.

Momen di depan nisan kayu itu menjadi puncak keharuan ketika Tito tertunduk cukup lama dalam balutan doa yang tulus. Kehadirannya melengkapi daftar panjang tokoh-tokoh besar bangsa yang telah lebih dulu datang menghaturkan doa di tempat peristirahatan terakhir sang dermawan.

Nama-nama besar seperti, Dirut Bank Mandiri Riduan, Prof Yusril Ihza Mahendra diwakili putranya, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, Habib Rizieq Shihab, Mantan Menteri Agama Prof. Said Aqil Husin Al Munawar, Bendahara Umum DPP PAN Pangeran Khairul Saleh, hingga Iqbal Romzi, Marzuki Alie, dan puluhan tokoh nasional lainnya telah membuktikan betapa luasnya warisan kebaikan yang ditinggalkan oleh almarhum semasa hidupnya.

Haji Halim telah pergi untuk selama-lamanya, namun jejak kedermawanannya akan terus hidup melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang mencintainya.