Ratu Dewa Siap Buka FGIK 2026 dan Ajak Ponpes Nurul Qomar Perkuat Syiar Islam

MONPERA.ID, Palembang – Yayasan Pondok Pesantren Nurul Qomar Palembang menggelar audiensi dengan Ratu Dewa, Kamis (08/01/2026) pagi.
Audiensi tersebut membahas kesiapan serta koordinasi pelaksanaan Festival Generasi Islami Kreatif (FGIK) Pondok Pesantren Nurul Qomar Palembang Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 26 hingga 28 Januari 2026.

Audiensi dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Ponpes Nurul Qomar Dr. Wijaya, MC, M.Si, Ketua Yayasan H. M. Afrizal Rivai, S.H, Mudir Pondok Pesantren Nurul Qomar KH. Orbit Rupawan, S.Th.I, jajaran pengurus yayasan, serta Ketua Panitia FGIK Nurul Qomar Tahun 2026.

Dalam pertemuan tersebut, KH. Orbit Rupawan menyampaikan apresiasi atas sambutan dan waktu yang diberikan Wali Kota Palembang. Ia juga secara resmi mengundang Wali Kota Palembang untuk berkenan hadir sekaligus membuka kegiatan FGIK 2026.

“Kami menyampaikan terima kasih atas kesediaan Bapak Wali Kota Palembang menerima audiensi kami. Melalui kesempatan ini, kami juga mengundang Bapak Wali Kota untuk hadir dan membuka Festival Generasi Islami Kreatif Pondok Pesantren Nurul Qomar Tahun 2026,” ujar KH. Orbit Rupawan.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyatakan kesiapannya untuk hadir dan membuka kegiatan FGIK secara resmi.

Ia juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang saat ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Palembang. Ratu Dewa mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Provinsi Sumatera Selatan yang menempati peringkat kedua secara nasional, dengan Kota Palembang sebagai wilayah dengan dominasi pengguna terbanyak.

“Kondisi ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah Kota Palembang terus mendorong peran aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk pondok pesantren, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba,” tegasnya.

Selain itu, Ratu Dewa juga menyoroti masih tingginya persentase anak usia sekolah di Kota Palembang yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Menurutnya, persoalan buta aksara Al-Qur’an memerlukan kolaborasi nyata antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan.

“Kami berharap Pondok Pesantren Nurul Qomar dan seluruh pondok pesantren di Palembang dapat bersinergi dengan Pemerintah Kota Palembang dalam mengentaskan buta aksara Al-Qur’an,” katanya.