MONPERA.ID, Palembang – Di balik berdirinya sebuah masjid megah di Kampus Universitas Kader Bangsa (UKB) Palembang, tersimpan kisah perjuangan yang begitu menyentuh hati.
Masjid yang diberi nama Masjid Dr Irzanita Al Mukarromah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol cinta, doa, dan pengorbanan panjang seorang perempuan tangguh bernama Dr. Hj. Irzanita, SH, SE, SKM, MM, MKes.
Pada hari Rabu, 13 Mei 2026, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, meresmikan masjid ini dengan penuh khidmat. Namun, di balik seremoni itu, ada air mata yang jatuh, ada kenangan masa kecil yang kembali hadir, dan ada janji lama yang akhirnya terwujud.
Kisah ini bermula dari masa remaja Irzanita. Di kampung halamannya, ia sering menunaikan sholat tarawih di sebuah masjid tua yang terbuat dari kayu. Lantai masjid itu rapuh, setiap kali sujud, lutut anak-anak menghentak kayu yang sudah menua.
Suatu malam, seorang ibu tua disebut Anduang dari Sumatera Barat menegur mereka dengan suara bergetar: “Jangan hentakkan lutut kalian di lantai masjid ini. Nanti rusak dan kalian belum tentu mampu memperbaikinya, apalagi membangunnya.”
Kalimat sederhana itu menusuk hati Irzanita. Dalam diam, ia berjanji bahwa suatu hari nanti, ia akan membangun masjid yang kokoh, indah, dan megah. Bukan lagi masjid kayu rapuh, melainkan rumah Allah yang berdiri dengan batu, keramik, dan cinta. Namun, kini Anduang itu sudah tiada, tidak bisa menyaksikan apa yang ditekadnya. Dalam kata, Irzanita meneteskan air matanya mengenang kisahnya itu.
Puluhan tahun berlalu. Janji kecil itu tumbuh menjadi tekad besar. Sebagai Ketua Yayasan Pendidikan dan Kesehatan Kader Bangsa dan Pendiri Masjid, Irzanita menyadari bahwa pendidikan tidak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan iman dan akhlak.
Maka, ia memulai perjalanan panjang membangun masjid di lingkungan kampus Universitas Kader Bangsa (UKB). Perjalanan yang penuh tantangan: keterbatasan dana, keraguan, bahkan air mata yang jatuh dalam diam. Namun, setiap kesulitan dijawab dengan doa. Setiap keraguan ditepis oleh keyakinan bahwa jika niat itu untuk Allah, maka Allah akan membuka jalan.Sekarang, masjid itu telah berdiri megah. Bukan hanya hasil kerja fisik, tetapi buah dari doa, cinta, dan pengorbanan banyak hati yang tulus.
Dalam sambutannya, Irzanita menegaskan bahwa masjid ini bukan sekadar bangunan indah. Ia adalah jantung spiritual bagi seluruh aktivitas akademik di UKB.”Ilmu harus bertemu dengan iman. Pengetahuan harus bersanding dengan ketakwaan. Kecerdasan harus dibimbing oleh hati nurani,” ujarnya.
Masjid ini diharapkan melahirkan generasi yang tidak hanya pintar berpikir, tetapi juga kuat bersujud. Tidak hanya cerdas berbicara, tetapi juga lembut hatinya. Tidak hanya hebat mengejar dunia, tetapi juga sadar akan tujuan akhirat.
Kehadiran Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam peresmian ini menjadi kehormatan besar. Bagi Irzanita, kehadiran beliau bukan hanya dukungan kelembagaan, tetapi juga energi moral yang memperkuat semangat membangun pendidikan berbasis nilai keislaman.
Masjid ini dipersembahkan sebagai bagian kecil dari ikhtiar besar bangsa yakni membangun spiritualitas dalam dunia pendidikan. Sebuah pusat dakwah yang menyejukkan, pusat ukhuwah yang mempersatukan, dan pusat lahirnya pemimpin masa depan yang amanah.
Irzanita sadar, meresmikan masjid jauh lebih mudah daripada memakmurkannya. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan masjid ini tetap hidup, dengan shalat berjamaah, kajian ilmu, lantunan Al-Qur’an, kegiatan sosial, dan hati-hati yang rindu kepada Allah.
Karena itu, ia mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat sekitar untuk menjaga rumah Allah ini. “Mari kita ramaikan, kita hidupkan, dan kita jadikan masjid ini sebagai pusat keberkahan,” serunya penuh haru.
Bagi Irzanita, hari peresmian ini adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidupnya. Ia teringat bagaimana cita-cita ini dahulu hanya berupa doa sederhana, tanpa jaminan akan terwujud. Kini, ketika masjid berdiri megah, ia merasa kecil di hadapan kebesaran Allah.
“Ternyata benar, jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia berharap, meski suatu hari nama manusia terlupakan, masjid ini tetap hidup. Anak-anak akan terus mengaji, orang-orang akan terus bersujud, dan pahala akan terus mengalir. Itulah warisan terbaik. Itulah investasi abadi.
Acara peresmian ditutup dengan doa penuh haru. Irzanita menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, serta memohon maaf atas segala kekurangan.
Langkah kaki menuju sajadah… Doa terangkat penuh haru… Masjid indah tempat beribadah… Penenang hati sepanjang waktu…

