HD Pastikan Kesiapsiagaan Satgas Karhutla OKU Selatan Hadapi Ancaman Kekeringan

MONPERA.ID,OKUS – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Ketua DPRD Provinsi Sumsel Andie Dinialdie meninjau Posko Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor BPBD Kabupaten OKU Selatan, Sabtu (19/9/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan Satgas Karhutla Kabupaten OKU Selatan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memastikan kondisi di wilayah tersebut tetap terkendali.

Herman Deru mengatakan, kunjungannya ke OKU Selatan merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel untuk memantau secara langsung kondisi di daerah, terutama dalam menghadapi cuaca yang masih berpotensi kering dalam beberapa waktu ke depan.

“Kenapa Gubernur begitu konsen sampai harus ke OKU Selatan ini, karena kita ini El Nino. Menurut BMKG diperkirakan baru bisa mendapatkan hujan alami itu awal November. Berarti ada sekitar 45 hari lagi tidak hujan,” kata Herman Deru.

Meski demikian, Herman Deru berharap perkiraan tersebut tidak terjadi dan hujan dapat turun lebih cepat sehingga kondisi di Sumsel tetap aman serta potensi karhutla dapat ditekan.

“Namun, mudah-mudahan itu tidak benar, semoga lebih cepat datang hujannya,” ujarnya.

Menurut Herman Deru, Pemprov Sumsel bersama Satgas Karhutla terus melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga saat ini, OMC telah dilakukan sebanyak 58 kali sebagai salah satu upaya untuk memancing pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak hanya dilakukan pada siang hari. Dalam kondisi tertentu, operasi juga dilakukan pada malam hingga tengah malam ketika terdapat informasi mengenai bibit awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“OMC sudah 58 kali kita lakukan. BNPB, saya sebagai gubernur menginstruksikan Satgas untuk melakukan OMC, baik itu tengah malam sudah kita lakukan. Begitu ada informasi bibit hujan, tengah malam pun kita lakukan,” jelasnya.

Herman Deru menambahkan, pelaksanaan OMC juga memiliki risiko tersendiri bagi pilot dan kru pesawat yang bertugas. Namun, langkah tersebut tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan dampak kekeringan dan mencegah meluasnya karhutla.

“Ini mempertaruhkan nyawa pilot dan kru untuk menebar garam sebagai pemancing awan berbibit hujan. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita,” katanya.

Selain mengantisipasi karhutla, Herman Deru juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memperhatikan dampak musim kering terhadap ketersediaan air. Ia melihat sejumlah sungai di wilayah Sumsel mulai mengalami penurunan debit akibat kondisi cuaca.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah, termasuk pengelola PDAM, mulai menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan air masyarakat tetap dapat terpenuhi.

“Saya lihat sungai-sungai kita banyak sekali debitnya turun. Kalau PDAM, itu harus kita carikan solusi bagaimana intake-nya agar tetap produktif. Masyarakat yang hidupnya menggantungkan pada air sungai harus kita perhatikan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKU Selatan dan Satgas Karhutla setempat. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, OKU Selatan tidak termasuk daerah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap asap akibat karhutla.

“Kedatangan saya juga untuk mengingatkan dan mengapresiasi bahwa OKU Selatan ini tidak termasuk kabupaten yang menyumbang asap,” ungkapnya.

Namun demikian, ia meminta seluruh jajaran Satgas tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, potensi munculnya titik api tidak hanya berasal dari aktivitas manusia, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor alam, terutama kondisi cuaca yang ekstrem dan kering.

Herman Deru juga menginstruksikan agar kesiapsiagaan penanganan karhutla diperkuat, termasuk untuk wilayah yang sulit dijangkau oleh personel di darat. Untuk titik api yang berada di kawasan pegunungan atau lokasi yang tidak terjangkau manusia, dukungan penanganan melalui udara harus dapat segera dilakukan.

“Kalau ada yang tidak terjangkau manusia, misalnya di atas gunung tiba-tiba ada kejadian, helikopter bisa dikerahkan. Bapak bisa telepon, kasih titik koordinat,” tegasnya.

Ia mengatakan, Dansatgas Udara juga telah diinstruksikan untuk siaga selama 24 jam. Kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat mempercepat respons apabila ditemukan titik api di wilayah yang sulit dijangkau.

“Dalam hal ini kita tidak main-main. Tetapi ingat juga ada peran manusia, namun faktor alam sangat tinggi memengaruhi terkait hotspot dan fire spot,” pungkas Herman Deru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *