HD Ungkap Tantangan Terbesar dan Kunci Utama Penanganan Karhutla di Sumsel

MONPERA.ID,Palembang – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, menerima kunjungan kerja Peserta Didik Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026 dalam rangka Kegiatan Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) di Ruang Rapat Gubernur Sumsel, Palembang, Rabu (9/9/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk menggali gambaran faktual serta merumuskan saran strategis dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumsel secara preventif, inovatif, dan kolaboratif.

Dalam pemaparannya di hadapan para peserta, Herman Deru menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak sekadar urusan memadamkan api, melainkan menghadapi kompleksitas alam dan kondisi lapangan. Hingga saat ini, tercatat luas lahan yang terbakar di Sumsel mencapai 1.926,2 hektar, di mana 80 persen di antaranya merupakan lahan terbengkalai.

“Karhutla sulit dikendalikan karena dipengaruhi banyak faktor antara lain struktur lahan gambut, cuaca panas, wilayah yang luas dan sulit dijangkau, terbatasnya sumber air, hingga api bawah tanah yang sulit dideteksi. Karena itu, kunci utamanya adalah pencegahan, kecepatan, ketepatan, dan konsistensi,” ujar Herman Deru.

Ia mencontohkan rumitnya pemadaman di lapangan. Dari laporan harian misal terdapat 45 hektar area terbakar, pengerjaan empat helikopter pemadam (water bombing) dengan sekitar lebih dari 500 kubik air hanya mampu memadamkan sekitar 2,5 hektar karena karakter lahan gambut yang pekat. Sementara 14 hektar sidarat berhasil ditangani lewat jalur darat.

Meski aksi udara penting untuk titik terisolasi, penanganan darat dan operasi pembasahan termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang memicu hujan tetap menjadi solusi paling efektif.

Untuk mengatasi persoalan ini, Pemprov Sumsel memfokuskan penanganan pada 12 daerah prioritas, yaitu Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Banyuasin, Muara Enim, Musi Banyuasin (Muba), PALI, Musi Rawas (Mura), Muratara, OKU Timur, OKU, Lahat, dan OKU Selatan. Sebanyak 11.567 personel gabungan disiagakan melalui sinergi lintas elemen.

“Harus ada riset mendalam mengenai penyebab utama Karhutla di setiap kondisi. Integrasi semua persoalan menjadi kebijakan yang berpihak butuh kesiapan mental dan jam terbang tinggi. Kecepatan merespons dan keterpaduan adalah kuncinya,” tegasnya.

Sementara itu, Pati Pendamping Sespimti Polri, Brigjen Pol Ratno Kuncoro, S.I.K., M.Si., menyampaikan apresiasinya atas penerimaan Pemprov Sumsel selama kegiatan PKDN yang akan berlangsung selama 10 hari ini.

“Sesuai arahan Kapolda Sumsel, Karhutla adalah isu tahunan yang krusial. Sumsel menjadi objek kajian yang sangat relevan. Kami berharap hasil riset dan formulasi dari para peserta dapat menghasilkan kunci sukses penanganan Karhutla yang bisa diduplikasi ke wilayah lain di Indonesia,” pungkas Brigjen Pol Ratno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *