Kartini Zaman Now: Antara Literasi Digital dan Gerakan Perubahan Sosial

MONPERA.ID, Peringatan Hari Kartini setiap 21 April semestinya tidak berhenti pada simbolisme busana adat atau seremonial tahunan belaka. Lebih dari itu, Kartini harus dipahami sebagai sebuah gagasan besar, kesadaran kritis, dan gerakan intelektual yang melampaui zamannya. Dalam konteks masyarakat kontemporer, khususnya di era media digital, pertanyaan yang relevan bukan lagi tentang siapa Kartini, melainkan bagaimana semangat Kartini diaktualisasikan oleh anak muda hari ini melalui media.

Di sinilah diskursus tentang “Kartini Zaman Now” menemukan relevansinya sebagai perjumpaan antara generasi muda, media, dan perubahan sosial.

Raden Ajeng Kartini hidup dalam keterbatasan struktural yang kuat dengan budaya patriarki, akses pendidikan yang timpang, serta pembatasan ruang gerak perempuan pada akhir abad ke-19.

Namun, ia menjadikan tulisan dan korespondensi sebagai medium perlawanan intelektual. Surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” mencerminkan kesadaran kritis tentang ketidakadilan sosial, pentingnya pendidikan, dan emansipasi perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Meskipun media pada masa Kartini bersifat elitis dan terbatas, ia berhasil memanfaatkannya secara strategis untuk menyuarakan kegelisahan zamannya kepada dunia.

Jika dahulu Kartini menggunakan surat sebagai medium perubahan, maka anak muda hari ini hidup dalam lanskap media yang jauh lebih kompleks dan masif.

Media digital telah menciptakan apa yang oleh Manuel Castells disebut sebagai network society, yaitu masyarakat yang relasi sosial, ekonomi, dan politiknya dimediasi oleh jaringan informasi.

Dalam konteks ini, anak muda memiliki peluang besar untuk menjadi subjek perubahan sosial sebagaimana Kartini pada masanya, tetapi dengan alat dan tantangan yang berbeda.

Anak muda di era media bukan sekadar konsumen informasi, melainkan juga produsen makna yang oleh Henry Jenkins disebut sebagai participatory culture, di mana individu secara aktif memproduksi, membagikan, dan mengomentari konten.

Spirit Kartini dapat dilihat dalam berbagai gerakan digital yang digagas anak muda, mulai dari kampanye kesetaraan gender, advokasi pendidikan inklusif, literasi digital, hingga kritik terhadap ketimpangan sosial.

Tanda pagar, video pendek, dan tulisan daring kini menjadi “surat-surat Kartini” versi kontemporer yang menjangkau audiens lebih luas dan lintas batas. Namun demikian, optimisme terhadap media juga harus diiringi sikap kritis karena media bukan ruang netral.

Marshall McLuhan mengingatkan bahwa the medium is the message, di mana media bukan hanya menyampaikan pesan tetapi juga membentuk cara manusia berpikir dan bertindak.

Semangat Kartini menuntut anak muda untuk tidak hanya aktif di media, tetapi juga reflektif dan etis dalam menggunakannya.

Tantangan lain yang muncul adalah kecenderungan aktivisme simbolik atau slacktivism, yakni partisipasi sosial yang dangkal dan berhenti pada ekspresi identitas semata tanpa keberlanjutan aksi nyata.

Semangat Kartini tidak dapat direduksi menjadi konten viral tanpa keberlanjutan praksis sosial, mengingat Kartini sendiri bukan hanya berpikir dan menulis tetapi juga bercita-cita membangun pendidikan bagi perempuan pribumi.

Oleh karena itu, “Kartini Zaman Now” seharusnya dimaknai sebagai integrasi antara kesadaran digital dan aksi nyata di ruang sosial. Di tangan anak muda yang kritis, media harus dijadikan sarana pencerahan, bukan sekadar panggung eksistensi atau hiburan semata.

Sebagai figur historis, Kartini mengajarkan bahwa perubahan sosial sering kali dimulai dari perubahan cara berpikir atau yang oleh Paulo Freire disebut sebagai conscientization. Anak muda yang memanfaatkan media untuk edukasi publik dan advokasi kebijakan sejatinya sedang melanjutkan tradisi intelektual Kartini dalam konteks zaman yang baru.

Dengan demikian, “Kartini Zaman Now” adalah sebuah panggilan etis dan intelektual untuk memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.

Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi momentum reflektif untuk menilai sejauh mana media telah digunakan sebagai alat perubahan sosial agar semangatnya terus menyala melampaui zaman dan generasi.

Oleh: Muhamad Afdoli Ramadoni, S.Sos., M.Sos., CPS, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam FAI Universitas Muhammadiyah Palembang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *